Taran berlari cukup jauh, hingga akhirnya merasa lelah dan berhenti untuk berlari. Taran mengangkat wajahnya, memandang sekelilingnya. tempat ini tidak asing. Ia sering datang kesini, dulu, bersama orang itu.
bersama orang yang baru-baru saja meninggalkannya. Taran merosot ke tanah. kakinya sudah tak mampu lagi menahan rasa sakit di dadanya. Ia ridak menangis, Taran belum mengeluarkan setetes pun air mata. Ia tidak tau caranya untuk menangis, bahkan Ia sebenarnya tidak mengenal air mata. Ayahnya tidak pernah mengajarinya untuk menangis. menjadi kuat dan membela yang lemah dan benar. hanya itu yang ia tau.
dan sekarang, Taran merasa benci kepada ayahnya karena tidak mengajarinya cara mengeluarkan kesedihan. dia terlalu sering di ajari berbagai macam hal yang jauh dari sifat yang emosional. tentu saja Taran menjadi depresi sekarang ini.
Taran yang kini masih terduduk di lumpur masih belum bereaksi apa-apa. Ia melirik ke arah pohon besar di sebelah kanannya, lalu merangkak dan bersender di situ. Ia merasa lelah. benar-benar lelah. matanya terasa sangat panas. tapi apa yang harus dia lakukan?
bukannya menangis, Ia malah mengasihani dirinya. gila mungkin, tapi ia tertawa. menertawai dirinya sendiri.
Taran memutuskan untuk memejamkan matanya. berusaha kabur dari dunia yang terasa sangat kejam padanya saat ini. menjadikan hujan sebagai selimutnya, dan pohon besar ini sebagai kakinya yang lain.
di mimpinya, Taran dapat melihat hamparan hijau dengan sungai-sungai kecil yang mengalir dari tiap pohon. tenang sekali di sana, Taran kembali memejamkan matanya, mencoba menghirup udara yang terasa ringan sekali. Dan, ayahnya ada disana, tepat ketika Tara membuka mata. Pria itu terlihat segar, bahagia, dan tersenyum lebar sambil menatap Taran.
seseorang baru saja hendak melepas anak panahnya pada seekor merpati putih, ketika merpati itu terbang menghampiri tubuh Taran yang terbaring lemas di akar besar pohon ek. mata coklat orang itu beralih ke tubuh gadis yang entah mati atau pingsan itu.
perlahan Ia menurunkan busur panahnya dan berjalan mendekati gadis itu. sedikit berjongkok, ia menyingkirkan rambut basah yang menutupi wajah Taran. dan saat itu, air mata mengalir di pipi putih gadis ini...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar