Kita,
merupakan dua insan yang benar-benar bertolak belakang. Aku yang menyukai
kesunyian dalam imajinasiku, dan kau yang berkilauan di mata semua orang,
selalu berada dalam keramaian, dan terbuai dengan indahnya dunia.
Namun, semakin lama aku mengenalmu,
semakin munculah perasaan egois yang memakan nurani ku. Yaitu, dapat bersama
denganmu.
Aku tahu itu tidak mungkin, jangan
tanya mengapa. Karena aku juga tak tahu. keyakinanlah yang membuatku tahu, dan hanya
pengetahuan itu yang membuatku yakin.
Apa salahnya, jika aku menjadi egois
akan hal ini?
Apa salahnya, jika aku ingin
bersamamu?
Yang salah, aku
terlalu banyak mengandai-andaikan hal itu.
Tahu
kah kau, akan dongeng? Sebuah kisah yang hanya hidup dan indah dalam khayalan.
Jadi biarlah perasaan ini tertulis dan menjadi hidup dalam selembar kertas,
lalu, kau hanya perlu membacanya, jika kau mau..
Yang
mampu membuatku menangis selain sebuah kematian, hanyalah imajinasiku. Ya,
imajinasiku, tentangmu. ketika aku membayangkan dapat bersama denganmu, yang
bahkan pada sebuah dongeng pun mustahil untuk menjadi nyata. Kau mengubah segalanya
menjadi setetes air mata harapan yang meleleh pasrah di pipiku. Seringkali rasa
kecewa merobek nurani hingga meninggalkan luka besar pada organ suci yang tak
terlihat oleh kasat mata itu.
Ku
teriakkan namamu dalam doa tersuci ku. Mampukah kau mendengarnya? nurani pun
tak dapat menjawab, kini tinggal kau yang ku tunggu. Bilah pedang berputar
tanpa mengenal ampun, sedikit lagi aku akan terdiam. Adakah seseorang yang sudi memberitahumu akan isi hatiku yang
bisa kapan saja tumpah, akibat nanah yang menyeruak dari luka yang tak kunjung sembuh? Adakah?
Lututku
sampai tak kuat lagi untuk menghadap dan memohon pada-Nya. Melihatmu perlahan
menjauhiku seperti sampah yang mulai membusuk. Sekarang, tak ada lagi yang
dapat ku harapkan, tak ada lagi yang ku inginkan. Nanah hati mengalir di kulit
pipi, terasa sangat perih. Lemah sekali diri ini. Menghabiskan hidup hanya
untuk insan yang memiliki mata, akan tetapi untuk melihatku pun ia tak mampu. Memiliki
telinga, tapi untuk mendengarkan ucapanku pun Ia tak bisa. Memiliki lengan yang
kokoh, tapi tak kuat untuk menopangku berdiri. Mengapa aku menjadi orang tak
berotak seperti ini? Mengapa tuhan? Siapa yang harus ku salahkan saat ini?
Mengapa kiblatku mengarah pada dirinya yang tidak mampu merasakan diriku.
Kehadiranku. Keberadaanku. Perasaanku. Kurang bodoh apalagi?
Bilah
itu akhirnya terus berputar tanpa sedikitpun menoleh padaku. memori perlahan
menggeser dirimu dari sana. Kabarmu tak lagi terdengar. membuatku semakin
mengerti akan makna tiap nafas yang ku hirup, akan tiap detik yang ku lewatkan.
Tawa masih dapat ku rasakan tanpa dirimu. Air mata pun masih cukup untuk
menangisi seseorang selainmu. Semakin lama, semakin terbiasa. Aku menikmatinya.
Saat
itu, hujan baru saja berhenti. Merasa
lelah, ku sandarkan punggungku pada pohon yang benar-benar kokoh itu, lalu
terdiam. sunyi. Aku menyukainya, bau rumput basah, tanah lembab, dan masih ada
rintik-rintik kecil air yang jatuh dari langit.
Aku terpana.
Tidakkah ia merasa
sakit? Jatuh dari tempat yang sebegitu tingginya? menjauhi suatu tempat yang
walaupun sebentar pernah mendekapnya?
Tersadar, aku sama dengannya, tidak bisa
selalu menahan keinginanku untuk tetap di dekapmu. Menekan rasa egois. Pada
akhirnya pun, aku tetap terjatuh. Dan pasti lebih jauh dari air itu.